
Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al Atsary
Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Imam asy Syafi’i, "Wahai Abu Abdillah, manakah yang lebih baik bagi seseorang dibiarkan atau diuji?"
Al Imam asy Syafi’i menjawab, "Tidak mungkin seseorang itu dibiarkan hingga ia diuji, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah menguji Nabi Nuh, Ibrohim, Musa, ‘Isa, dan Nabi Muhammad sholawatullah ‘alaihim ajma’in. Maka tatkala mereka bersabar, Allah mengokohkan mereka. Tidak boleh seorang pun mengira akan lepas dari kesusahan."
Penulisan Hadits : BID’AH ?
Redaksi Al Wala’ Wal Bara’
Tanya:
Rosulullah pernah melarang menuliskan hadits karena khawatir rancu dengan Al Qur`an, kita bahkan menulis dan menterjemahkan dalam berbagai bahasa. Apa ini bukan bid’ah? Karena tidak ada dalam syar’i. Wassalamu ‘alaikum. (08122123*)
Selengkapnya »
Jangan Bermudah-Mudah Dalam Berfatwa !
Dr. Anas Ahmad Karzun
Dan dari apa-apa yang bisa diambil terhadap sebagian penuntut ilmu (sebagai celaan untuk mereka) dalam pembahasan kita (yaitu jujur dan amanah) adalah bermudah-mudahannya mereka dalam berfatwa dengan semata-mata bermodalkan penelaahan / pengetahuan mereka dalam sebagian hukum-hukum syar’i. Sehingga salah seorang dari mereka menyangka bahwa dirinya sudah menjadi ahli fatwa dan mencoba meluruskan pendapat ahli fiqh atau membantahnya.
Antara Jujur, Amanat, Dusta, dan Khianat
Redaksi Al Wala’ Wal Bara’
Kejujuran adalah akhlak yang tinggi, pondasi segala keutamaan, dengannyalah roda kehidupan akan lurus dan berjalan dengan lancar, sungguh kejujuran akan mengangkat derajat pelakunya disisi Alloh subhanahu wa ta’ala dan di tengah-tengah manusia, maka dengan itu Alloh memerintahkan untuk bersama dengan orang-orang jujur. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya): "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar" (Q.S. At-Taubah :119).
Menanam Mahabbah Menuai Ukhuwwah
Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al Atsary
Mahabbah dari asal kata al-hub yang bermakna cinta, keberadaannya begitu berarti dalam kehidupan manusia, ia bukanlah sekedar cerita indah tapi asyik, bukan pula pemicu kecemburuan yang berbuntut, hanya orang-orang yang beriman yang mampu menginterpretasikan nilai positif dan berharga darinya.
Apa jadinya bila manusia hidup tanpa cinta, ketidakstabilan dan kesenjangan serta kekacauan tentu mewarnai perjalanan hari-harinya di dunia, pola kehidupan hewani yang kemudian jadi acuan, siapa kuat dialah yang berkuasa. Inilah fenomena yang nampak pada kaum kolotisme (jahiliyyah) dulu.
Pintu-Pintu Kerusakan
Al Ustadz Zainul Arifin
Dzun Nun Al Mishri Rahimahullah (Seorang Ulama setelah masa tabi’ut tabi’in) berkata:
"Bukti seseorang cinta kepada Allah Azza Wa Jalla adalah cinta kepada Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam juga cinta kepada akhlaknya, amalan-amalannya, perintah-perintahnya serta sunnah-sunnahnya (ajaran beliau)"
Selengkapnya »SALAFY START PAGE !
Al Akh Abu Husain Munajat Al Aruni
Alhamdulillah telah hadir kembali Salafy Website Startpage SALAFY.WS, berisi situs-situs salafy se-dunia dan berbagai salafy tools seperti email gratis nama@salafy.ws, file sharing, salafi search, dan lain-lain.
Sikap Muslim Terhadap Hari Kasih Sayang - Valentine’s Day
Asy Syaikh Muhammad Bin Shalih Al Utsaimin
Pertanyaan:
Bagaimana hukum merayakan hari Kasih Sayang / Valentine’s Day ?
Hari Kasih Sayang - Valentine’s Day dalam Tinjauan Syariat Islam
Valentine’s Day sebenarnya, bersumber dari paganisme orang musyrik, penyembahan berhala dan penghormatan pada pastor kuffar. Bahkan tak ada kaitannya dengan “kasih sayang”, lalu kenapa kita masih juga menyambut Hari Valentine? Adakah ia merupakan hari yang istimewa? Adat? Atau hanya ikut-ikutan semata tanpa tahu asal muasalnya?
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertangggungjawabannya” (Al Isra’ : 36).
Selengkapnya »
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertangggungjawabannya” (Al Isra’ : 36).
