
Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed
Sesungguhnya tidak ada keselamatan kecuali dengan mengikuti Kitab dan Sunnah dengan pemahaman salaful ummah. Tapi kita tidak mungkin mendengar sunnah dan pemahaman mereka kecuali dengan melalui sanad (rantai para rawi). Dan sanad termasuk dalam Dien. Maka lihatlah dari siapa kalian mengambil Dien kalian. Sedangkan yang paling mengerti tentang sanad adalah Ahlul Hadits. Maka dalam tulisan ini kita akan lihat betapa tingginya kedudukan mereka.
Selengkapnya »
Kajian Salafy di Masjid LIPI Bandung
Redaksi Ghuroba
Insya Alloh ta’ala, mulai Ahad (yaitu tanggal 2 Desember 2007 M), majelis ta’lim salafy di masjid LIPI akan dimulai lebih awal, yaitu mulai dari pukul 13.00. Dengan perincian:
Insya Alloh ta’ala, mulai Ahad (yaitu tanggal 2 Desember 2007 M), majelis ta’lim salafy di masjid LIPI akan dimulai lebih awal, yaitu mulai dari pukul 13.00. Dengan perincian:
- Pukul 13.00 s.d. 14.30, kajian bersama Al-Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Mundzir (alumni Ma’had Darul Hadits Dammaj Yaman), membahas kitab Sifat Sholat Nabi Shollallohu ‘alaihi wa Sallam
- Pukul 14.30 s.d. 16.30 (dengan diselingi Sholat Ashar), masih melanjutkan kajian kitab Syarh Riyadhush-Sholihin bersama Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al-Atsary (alumni Ma’had Darul Hadits Dammaj Yaman, pengasuh ma’had Adhwa’ us-Salaf Cileunyi)
- Adapun kajian bersama Al-Ustadz Abu Najm Khothib (alumni Ma’had Darul Hadits Dammaj Yaman, pengasuh ma’had An-Nuur Ciamis), Insya Alloh ta’ala rutin diadakan setiap Ahad pekan ke-4 pada setiap bulannya.
Posisi tanggal 29 November 2007.
Sumber publikasi: Blog Elha Corner
SHAHIH BUKHARI dan SHAHIH MUSLIM Kitab Hadits Paling Shahih
Al-Ustadz Ahmad Hamdani Ibnu Muslim
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman (yang artinya), "Dan Kami turunkan kepadamu Adz-Dzikr agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkannya" (An Nahl:44)
Selengkapnya »Membongkar Kesesatan SYIAH
Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al-Atsari, Lc
Serupa tapi tak sama. Barangkali ungkapan ini tepat untuk menggambarkan Islam dan kelompok Syi’ah. Secara fisik, memang sulit dibedakan antara penganut Islam dengan Syi’ah. Namun jika ditelusuri -terutama dari sisi aqidah- perbedaan di antara keduanya ibarat minyak dan air. Sehingga, tidak mungkin disatukan.
Mencintai Para Sahabat dan Ahlul Bait Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al Atsari
Tidak diragukan lagi bahwa para sahabat adalah orang-orang terbaik setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi mereka adalah generasi terbaik sepanjang sejarah kehidupan manusia, hal ini selaras dengan ucapannya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, "Sebaik-baik manusia adalah pada masaku" (yakni para sahabat, pent). Adalah merupakan aqidah ahlissunnah wal jama’ah mencintai para sahabat dan ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa harus bersikap ekstrem dalam mencintainya, tetapi tidak juga bersikap merendahkan atau bahkan mencemoohkannya.
Tawasul Antara Sunnah, Bid’ah, dan Syirik
Redaksi Al Wala’ Wal Bara’
Do’a adalah seutama-utamanya pendekatan diri yang menghubungkan seorang hamba dengan penciptanya. Telah shahih hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda (yang artinya), "Doa adalah ibadah" (HR. Abu Dawud, disahihkan oleh Al Albany dalam Shahih Sunnan Abu Dawud) hal ini disebabkan karena pada diri orang yang berdoa terkumpul sifat kehinaan, ketundukan dan kebergantungan kepada Dzat yang di Tangan-Nya lah perbendaharaan segala sesuatu.
Kenikmatan Melihat Allah
Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al Atsary
Satu kenikmatan dan kebahagiaan yang akan dirasakan kaum mu’minin tatkala menghadap Rabbnya di hari akhirat dalam keadaan beriman, sebaliknya sungguh malapetaka, kebingungan yang luar biasa serta penyesalan yang sangat mendalam dirasakan orang-orang kafir di hari itu. Allah menggambarkan keadaan mereka dalam firmanNya (yang artinya), "Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram, mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat." (QS Al Qiyamah: 24-25).
Mungkinkah Memandang Wajah Allah Ta’ala ?
Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed
Bertemu dengan Allah Subhanahu Wata’ala dan memandang wajah-Nya kelak pada hari kiamat adalah merupakan sebuah kenikmatan yang tak terhingga besarnya. Oleh karena itu setiap orang yang beriman pasti akan sangat merindukan pertemuan dengan Allah dan memandang wajah-Nya. Untuk mencapai hal itulah mereka harus berusaha menjalani syarat-syarat yang telah Allah tetapkan dalam al-Qur’an yaitu mengerjakan amalan-amalan shalih dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman (yang artinya): Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan-Nya dalam beribadah kepada Rabb-nya. (al-Kahfi: 110)
Selengkapnya »
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman (yang artinya): Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan-Nya dalam beribadah kepada Rabb-nya. (al-Kahfi: 110)
Hukum Mencium Mushaf (Al Qur’an)
Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
Beliau berkata: Perkara ini -menurut keyakinan kami- adalah masuk ke dalam keumuman hadits "Jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru karena setiap perkara baru adalah bid’ah dan setiap kebid’ahan adalah sesat", dalam hadits lain "Setiap kesesatan dalam Neraka".
Banyak kalangan punya pendirian tertentu dalam menyikapi hal ini, mereka mengatakan, "Ada apa dengan mencium mushaf? Bukankah ini hanya untuk menampakkan sikap membesarkan dan mengagungkan Al Qur’an?"
