Fenomena “Mengkafirkan”


Al Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari 
 
Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): "Apabila seseorang menyeru kepada saudaranya: Wahai kafir, maka sungguh akan kembali sebutan kekafiran tersebut kepada salah seorang dari keduanya. Bila orang yang disebut kafir itu memang kafir adanya maka sebutan itu pantas untuknya, bila tidak maka sebutan kafir itu kembali kepada yang mengucapkan." (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6104 dan Muslim no.60)
Selengkapnya »



Meminta Pada Orang yang Dikubur


Al Ustadz Abu Hamzah Al Atsary
 
Orang yang datang ke kuburan seorang Nabi atau orang yang shalih, atau dia berkeyakinan bahwa tempat itu adalah kuburan seorang Nabi atau orang yang shalih padahal bukan, dan meminta kepadanya atau meminta pertolongannya, maka dalam hal ini ada beberapa keadaan.
Selengkapnya »



Ziarah Kubur: Syar’i Atau Bid’ah?


Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab Al Wushobi 
 
Hukum Berziarah Tahunan yang Terbatas (Waktu dan Tempatnya) ke Sebagian Kuburan

Bukan hanya musik, nyanyian ataupun minuman keras yang digandrungi oleh sebagian kaum muslimin. Akan tetapi mereka pun gandrung kepada yang namanya bid’ah bahkan kesyirikan -dan tentunya semuanya ini adalah kemunkaran yang harus diingkari dan dihilangkan-. Di antara kebid’ahan ataupun kesyirikan yang mereka gandrungi adalah berziarah ke kuburan-kuburan tanpa mengindahkan syarat-syaratnya.
Selengkapnya »



Fitnah Kuburan


Redaksi Al Jihad
 
Fitnah Kuburan Merusak Aqidah Ummat
 
Judul di atas bukan hanya suatu pernyataan tanpa bukti, tetapi fakta yang menunjukkan bahwa sebagian kaum muslimin, khususnya di Indonesia, masih terjerumus dalam penyembahan (pengkeramatan) terhadap wali-wali tertentu dan tempat-tempat yang dianggap dikeramatkan. Di antara mereka ada yang mendatangi kuburan wali fulan untuk mengais berkah agar usahanya berhasil, jodoh, kesaktian, atau berbagai permintaan yang lainnya.
 
Selengkapnya »



Pasangan Wanita di Surga


Syaikh Muhammad Bin Shalih Al Utsaimin

Pertanyaan:

Dalam ayat Al Qur’an maupun hadits nabawi disebutkan bahwasanya pria yang shalih di surga kelak akan didampingi / beristrikan para bidadari (huurul ‘ain), lalu bagaimana para wanita yang masuk surga?

Selengkapnya »



Wanita Ihtilam?


Syaikh Muhammad Bin Shalih Al Utsaimin

Pertanyaan: 

Apakah wanita juga mengalami mimpi basah (ihtilam) sebagaimana pria? Apabila ternyata wanita juga ihtilam, apa yang seharusnya dia lakukan? 

Selengkapnya »



Ikhlash, Betapa Sulitnya….


Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al Atsary 
 
Atsar-Atsar tentang Hakikat Ikhlash

Ikhlash adalah sesuatu yang begitu mudah diucapkan akan tetapi betapa sulitnya direalisasikan. Sampai-sampai sebagian ulama salaf menyatakan: "Sesungguhnya barangsiapa yang mempersaksikan bahwasanya dirinya telah ikhlash maka sungguh dia butuh untuk ikhlash lagi", sebagaimana diucapkan oleh As-Susiy.
 
Hal ini dikarenakan apabila seseorang merasa telah ikhlash dalam ucapan dan perbuatannya berarti dia telah berbuat ‘ujub (kagum dan bangga dengan amalnya) yang akan menghapuskan amalannya tersebut. Sedangkan orang yang ikhlash adalah orang yang amalnya bersih dari seluruh hal yang akan menghapuskannya seperti riya`, sum’ah, ‘ujub dan yang lainnya.
Selengkapnya »



Ikhlash dan Urgensinya


Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al Atsary 
 
Yang pertama kali yang harus dimiliki oleh seorang penuntut ilmu supaya dia bersenjatakan diri dengannya dan menjadikannya di depan kedua matanya adalah ikhlash karena Allah semata dalam ucapan dan perbuatannya, karena sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amalan apapun kecuali amalan yang ikhlash untuk-Nya semata (yang tentunya amalan tersebut berdasarkan Al-Qur`an ataupun As-Sunnah).
 
Selengkapnya »



AKAL Antara Islam dan Filsafat


Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al Atsary

Akal dalam diri manusia tak ada bedanya dengan sifat sempurna lainnya, ia sekalipun sempurna bagi manusia tetapi tetap mempunyai batasan-batasan yang tidak dapat dijangkaunya, sebab manusia adalah makhluk, maka tentu sifat-sifatnya juga makhluk yang tidak bisa lepas dari kekuatan, kelemahan, dan kekurangan. Allah Ta’ala telah menjadikan batasan bagi akal -dalam mengetahui beberapa perkara- berhenti padanya dan tidak akan mampu melewatinya, sebaliknya Allah Ta’ala juga tidaklah menjadikan akal sebagai sarana untuk mengetahui segala macam perkara, karena kalau demikian, maka akan menyamai Al Aliim -yang Maha Mengetahui- subhanahu wa ta’ala pencipta akal itu sendiri. Al Qur’an telah menyinggung dalam banyak ayat tentang para pengguna akal, antara pujian dan celaan.
 
Selengkapnya »